Rabu, 16 Juli 2008

Sebuah Permintaan

Sore itu terik matahari masih terasa. Seperti hari-hari belakangan ini, siang semakin terasa panjang. Kukendarai mobil dengan hati-hati, sambil sesekali menyipitkan mata menahan silau yang terpantul lewat kaca mobil. Dalam diam, mengalun lagu dari tape mobilku, Bila Rasaku Ini Rasamu dari Kerispatih, seakan mewakili suara hati saat itu. Kau tahu, Cuma ada kamu didalam hatiku saat ini. Ya..Cuma kamu..

Segenap semesta dan alam raya mungkin mengirimkan sinyal itu kepadamu, entah telepati atau apa, beberapa detik pada saat aku tengah memikirkanmu, HP-ku bergetar, incoming call : Cantique.. tergesa aku memijit tombol yes..

“Halo..”

“Halo”

“Tumben telepon, biasanya ditelepon aja gak diangkat,”

“Lagi dimana, Say?”

“Lagi dijalan,”

“Pulang?”

“Iya,”

Hening sejenak…

“Kok diam?, lagi ada dimana?”

“Didepan kantor kamu..”

“Ngapain?”

“Mau ketemu..”

Jeda panjang… Sungguh, aku sama sekali tak terfikir dia akan menemui aku, setelah beberapa hari ini aku mengirimkan SMS tanpa pernah ada jawaban. Telepon darikupun tak pernah diangkat. Pada saat itu aku berfikir bahwa dia sudah siap untuk pergi dari kehidupanku. Tentu aku juga harus segera menata keeping hati yang tercecer karena dia.

“”Mau ketemu? Tapi aku udah jalan pulang,”

“Please.. balik lagi..aku udah terlanjur turun disini,”

“Kamu dari mana?”

“Dari rumah,”

“Oke, kamu tunggu ya. Aku putar arah lagi. Belum terlalu jauh kok…”

Bisa ditebak. Hatiku membuncah karena senang. Membayangkan pertemuan yang selama ini aku anggap tidak akan pernah terjadi lagi. Diam-diam, senyum terbit diujung bibirku, membayangkan dia ada untuk menantiku disana.

Davie, perempuan cantik berkulit putih dengan tubuh mungil itu duduk dalam diam diujung halte depan kantorku. Tubuhnya dibalut blouse warna oranye dipadu dengan jeans biru model pensil. Dibahunya tersampir tas ELLE warna hitam yang beberapa waktu lalu aku beli untuknnya. Melihat mobilku bergerak mendekati tempatnya duduk, senyum sumringah terbit diwajahnya. Sempurna. Dia tetap seperti D yang aku kenal dan tetap akan seperti itu.

Sigap, dia naik keatas mobilku, tetap dengan gayanya yang santai tapi pasti. Senyumnya merekah menjadi tawa lebar. “Trims ya,” katanya pelan sambil menatap tepat dimanik-manik mataku. Tatapan yang lembut dan penuh kasih yang mengingatkan aku akan tatapan seorang seseorang pada kekasih hatinya.

“Its Ok. Belum terlalu jauh. Dan mana bisa aku ngebiarin perempuan cantik kaya kamu naik angkot sendirian...,” kataku,”kita kemana?”.

“Ke suatu tempat yang kita berdua bisa ngobrol leluasa,”

“Serius?”. Dia mengangguk..”Oke, kita ke Waroeng Diggers ya. Sambil menunggu malam turun disana. Cantik sekali,” ajakku. Dia hanya mengangguk. Lalu sepanjang jalan menuju kafe yang ada di pusat kota Bandar Lampung itu kami terlibat pembicaraan yang seru. Sesekali jemari tanganku menggamit jemarinya. Menggenggam dengan perasaan hangat dan penuh cinta. Tuhan, betapa aku merindunya..erangku dalam hati.

Tidak Ada penolakan sama sekali. Pun ketika aku bawa jemarinya ke bibirku, aku cium dengan penuh kasih dan sedikit nafsu mungkin. Dia hanya diam, bahkan tampaknya menikmati kecupan kecil dijemarinya. Tak tahan, ciumanku terus merembet ke pergelangan tangannya, ke lengannya yang mungil.. Dia menggelinjang kegelian.

“Kenapa?”

“Geli”

“Enak?” Wow..dia mengangguk..

Perjalanan lumayan panjang tak terasa. Yang aku tahu tiba-tiba mobilku sudah terparkir dengan manis di parkiran diggers. Aku dan D turun dari mobil dan langsung mengambil tempat di posisi favorit kami disana. Pramusaji datang dan menawarkan pesanan, aku pesan siomay goreng dan coke, D pesan roti bakar keju dipadu dengan orange juice.

Ada apa?” kataku menyelidik ketika pramusaji berlalu. D terdiam, lalu memandang mataku lama sekali… waktu seakan berhenti bergerak. Aku menikmati tatapannya yang manis, juga wajahnya yang sendu.

“Aku mau ngomong,” katanya pendek.

“silahkan,”

“Tapi jangan dipotong ya..”

“Maksudnya?”

“Pada saat aku ngomong jangan dijeda. Nanti aku lupa narasi yang sudah aku susun didalam kepalaku,” katanya tenang. D memang tenang seperti air yang mengalir di danau.. D juga biasa ngomong jujur dan gamblang ditengah-tengah ketenangannya itu. Tergesa aku mengangguk..

“oke.. take u’r time..”

“Aku sayang sama kamu,,” katanya pelan, matanya masih memandang aku lekat-lekat seolah tidak ingin dilepaskannya…Jeda panjang yang tercipta membuat aku seolah terbakar oleh ucapannya barusan. Diam-diam dalam hati aku teriak Yess… kencang-kencang..!!! Moment pengakuan ini yang aku ingin dapat dari dulu. Setelah sekian lama aku selalu bilang aku sayang kamu, dan dia hanya tersenyum manja, kali ini dia duluan yang bilang sayang. Hhhmmhmm…!!!

“aku juga sayang sama kamu..”

“Tadi khan aku udah bilang.. jangan dijeda..”

“Abis kamu diem aja..” kataku cepat mencoba meredakan gemuruh didadaku.

“Aku sayang kamu. Aku sadari itu, semenjak terakhir aku pulang ke Lampung, lalu kembali lagi ke Palembang, dan kemudian balik lagi ke Lampung. Aku tahu bahwa aku tidak bisa melupakan kamu,” pengakuan D sungguh telah mengguncang hatiku hingga kedasarnya. Membuat sayap imajinasiku terbang melayang menyentuh langit dan terbang diantara bintang, rembulan, dan burung-burung senja.

“Aku juga merasakan hal yang sama, D” ujarku cepat. D merengut manja.

“Jangan dijeda..” rengeknya dengan suara pelan melenguh seolah menahan geram. Aku tertawa lalu mengambil tangannya dan mencium jemarinya.

“Semenjak pertemuan kita satu tahun yang lalu. Semenjak kamu selalu ada didalam hari-hariku, semenjak kamu berikan perhatian berlebihan kepadaku bahkan lebih dari perhatian mama, dan keluargaku yang lain. Semenjak kepergian Yuan ke Riau beberapa waktu yang lalu dengan meninggalkan sepotong hati yang terluka dan kami hibur aku. Semenjak kamu begitu peduli akan pekerjaanku, penampilanku, apa yang aku sukai dan tidak aku sukai, tiba-tiba aku sadari bahwa aku begitu mendambamu.. Merindukan saat-saat manis ada didekatmu, merindukan belaian ringan penuh kasih sayang yang selalu kamu usapkan di atas kepala dan rambutku,” kata D pelan. Kata-kata terakhir diucapkan dengan penuh perasaan, hingga aku bisa mendengar suaranya bergetar.

Jeda panjang yang lama. Dan aku terlalu senang, terlalu kaget, terlalu takut untuk menyela pembicaraan. Padahal sumpah mati, aku ingin lihat bibir manyunnya cemberut memprotes kesepakatan bahwa aku tidak boleh menjeda kata-katanya.

“Hingga saat ini aku tetap merindukanmu.. Itulah alasan mengapa setiap kali aku pulang, aku merasa harus datang menemuimu. Dan hari ini aku datang dan berharap kamu masih duduk manis di ruanganmu..” katanya lagi. Kali ini aku tidak tahan untuk diam.

“Tapi kenapa kamu tidak balas SMS-ku, tidak angkat telepon, lalu keputusan terbesar yang membuat aku harus membenci diriku sendiri ketika kamu resign dan memilih pergi ke Palembang? Kenapa D? itu kah yang namanya cinta?” kataku. D merengut lagi.

“Jangan dipotong..” suaranya lemah tapi mengandung kekuatan magis yang entah apa namanya. Membuatku langsung terdiam dan menelan kekecewaan karena Tanya yang tak terjawab. Lalu aku diam dan mencoba mencerna kembali kata-kata yang kulihat siap meluncur dari mulutnya.

“Aku bingung dengan perasaanku,”

“Aaku..,”

“Jangan dipotong, aku belum selesai.” Aku terdiam dan menelan kembali kata-kata yang sudah siap meluncur keluar dari bibirku.

“sebenarnya aku tidak perlu bingung, kalau rasa sayang ini tidak tumbuh dan berkembang menjadi cinta. Cinta eros yang penuh nafsu. Kontak fisik yang terjadi diantara kita sudah memercikkan api yang bisa membakar aku. Ketika aku makin menikmati ciuman kecil, sentuhan ringan, pelukan hangat, dan bahkan ketika jemari kita bertaut pun aku merasakan nafsu itu. Dan aku tahu itu salah. Pada saat itulah aku berfikir bahwa aku harus pergi jauh dari kehidupanmu,”

“Kamu tidak perlu bersikap seperti itu. Nikmati saja. Aku juga merasakan hal yang sama,”

“Justru itu yang aku takutkan. Aku tidak bisa menahan diri. Jadi kumohon.. biarkan aku pergi dari kehidupanmu. Lupakan aku, maka aku akan segera melupakanmu. Cinta hadir pada posisi yang salah. Dia tidak selayaknya hadir diantara kita berdua.”

Jeda panjang. Makin panjang ketika pramusaji datang dan mengantarkan pesanan kami.

“Kumohon, setelah pertemuan ini, tak usah lagi kamu hubungi aku. Tak usah coba untuk datang kerumahku. Mungkin setelah beberapa bulan dari hari ini, ketika aku memutuskan untuk kembali bertemu denganmu, aku harap aku sudah dapat melupakan perasaan cinta ini. Melupakan bahwa kau pernah ada dalam hari-hari yang aku lewati selama 1 tahun ini,”

“Kamu egois,”

“Jangan bilang egois,” katanya menahan geram, “aku mau kita pisah baik-baik,” katanya.

“Pisah??, kita bahkan belum pernah ada hubungan khusus,”

“Apa???? Belum pernah ada hubungan khusus?” suara D naik menjadi 3 oktaf. “Jadi kamu fikir apa yang terjadi diantara kita selama ini? Ketika kamu cium aku, ketika kamu curi-curi bibir aku untuk kamu cium dan dengan terpaksa tapi menikmati, aku membiarkan kamu memperlakukan aku seperti itu, ketika kamu genggam jemari aku dan membawa kedalam pelukanmu, ketika kamu belai aku dengan penuh nafsu berkedok kasih sayang.. itu namanya apa? Ooohhh….jadi kamu cuma sekedar iseng dan menjadikan aku objek untuk melampiaskan nafsu?? Dan tidak ada perasaan khusus. Jadi aku salah ya..?” kali ini D benar-benar geram. Suaranya bergetar seperti menahan tangis. Aku terdiam.

Ketika suara getar itu hilang dan berganti menjadi lirih suara tangis, aku tidak tahan lagi. Aku rengkuh dia dalam pelukanku. Lalu aku juga menangis, “maafkan aku, D..” kataku pelan sambil mengusap rambutnya.

“Biarkan aku pergi. Lupakan tentang kita,” katanya disela-sela tangis.

“Aku tidak bisa,”

“Kamu harus bisa. Kamu sayang aku, aku sayang kamu, dan kita harus berjuang untuk kembali ke jalan masing-masing. Kamu punya keluarga, dan aku masih punya harapan masa depan. Cintai aku dan biarkan aku pergi meraih asa dan cita-cita seperti yang selama ini kamu inginkan ada untukku,”

“Tapi kita tetap bisa bersama-sama,”

“Konsentrasiku pecah kalau kita berdua masih terus berhubungan. Bantu aku untuk melupakanmu,”

“Tidak bisa,”

“Please… sayangi aku dengan cara itu. Biarkan aku pergi..”

Lirih suara tangis itu telah berubah menjadi isak tangis tertahan yang memilukan hati. Jauuuhhhhh disudut hatiku, aku mencoba untuk bersikap arief dan bijaksana. Meski aku mencintainya amat sangat, tapi apa yang dikatakannya tidak ada maksud tersembunyi selain meminta kerelaanku untuk melupakannya. Demi kebaikannya dan kebaikan kita berdua sebenarnya. Namun setidaknya aku sudah tahu bahwa dia mencintaiku, menikmati kebersamaan kami, dan merasa berat untuk berpisah denganku. Mungkin, itu saja sudah cukup. Bahkan sudah sangat cukup untuk memulai sebuah hubungan baru, cinta platonis Cinta antar teman. Yang berbeda dengan cinta kepada kekasih alias cinta eros yang penuh nafsu, kecemburuan dan otoritas. Cinta platonis jauh lebih suci ketimbang cinta eros.

Pelan aku mengangguk…

“Pergilah, kalau memang itu yang kamu inginkan,”

“Aku tidak akan pergi kalau kamu bilang begitu,”

“Lalu aku harus bilang apa?”

“Pergilah, karena memang itu yang kita butuhkan,” D mendikteku..

“Pergilah, karena memang itu yang kita butuhkan,” aku meniru narasinya.

“Terimakasih,”

“Sama-sama. I Love U..”

“Love U too..”

Hidangan diatas meja sudah dingin, es sudah mencair, menyisakan titik-titik embun diatas meja diggers. Kami menyesap pelan minuman kami dan mulai mengiris roti dan siomay goreng. Saling menyuapi seperti biasanya. Mengelap sudut bibir yang ternoda coklat dengan tissue tanpa suara, saling mengenggam jemari. Tapi anehnya kali ini lebih damai.. lebih bermakna.. lebih dari sekedar eros..

“So, gak jadi kerja di Palembang, akhirnya mau kerja dimana?”

“Aku ditawari jadi PR di salah satu restoran,”

“Dimana?”

“Di daerah Pahoman juga. Dekat-dekat sini,”

“Oohh…”

“Kok oohh…??”

“Ikut senang maksudnya..”

“Oohh… gitu ya. Kok enggak Tanya di restoran apa?” suara manjanya kumat lagi.

“Emang perlu Tanya?”

“Ya perlu dong..”

“Oke.. restaurant apa?”

Ada dech..hihihiiii….” D mulai lagi dengan Mode menggoda On..

Kalau sudah dengan gaya manja dan gaya menggoda gitu, kadang-kadang aku tidak bisa menahan diri. Yang aku inginkan hanya memilikinya. Mungkin benar kata D, bahwa kita berdua memang harus benar-benar berpisah. Persetan dengan cinta platonis. Aku akan melupakannya segera. Setelah pulang dari menunggu malam di waroeng diggers ini.. setelah aku menghabiskan siomay goreng dan coke.. Setelah mengantarkannya pulang untuk terakhir kali. Setelah aku yakinkan diri, bahwa hubungan ini too good to be true..Aku memang harus segera melupakan dia. Sayonara D..(**)

0 komentar: