Rabu, 09 Juli 2008

Cinta Dalam Satu Tarikan nafas


Siang itu cuaca sangat panas. Matahari penuh-penuh keluar dari balik awan seakan memamerkan sinarnya yang keemasan kepada semua penghuni bumi. Sialnya, ditengah terik matahari yang amat ganas itu aku harus keluar dari kantorku yang sejuk ini.. Hmmp..Menjemput seseorang yang dijanjikan sebagai room mate-ku.
Melihat gadis itu pertama kali tidak pernah terlintas dibenakku untuk jatuh cinta. Wajahnya biasa-biasa saja, baju warna pink yang membungkus tubuhnya menonjolkan lekukan sedikit di bagian dada dan punggung. Agak sedikit berlemak, fikirku waktu itu. Tubuhnya tidak begitu tinggi, sekilas mengukur, dia berada dikisaran angka 150 cm.. Dasar Indonesia asli!!!
Setelah proses penjemputan yang berjalan biasa-biasa saja, aku membawanya pulang ke apartemen. Room mate yang pendiam, kesimpulan itu tiba-tiba kutarik saja dari belahan otak kananku. Tak apa-apalah, setidaknya bisa menyeimbangkan kekuatan kicauanku yang mirip burung perkukut diberi anak-anak serangga..
Pembicaraan formal terjadi... Wajahnya yang kaku, pelan-pelan mencair.. Aku lontarkan pertanyaan-pertanyaan standar khas pertemuan pertama dua orang yang ditakdirkan harus bertemu karena masalah uang (yang harus dihemat di negeri orang)...
"orangtuaku bukan orang mampu..." katanya pelan.
"syukur dech, teman ibuku yang tidak memiliki anak mau menyekolahkan aku dan mengirimku kuliah disini," katanya sambil tersenyum manis.
Ia bilang, nasibnya sangat beruntung bisa mencicipi universitas terkenal yang isinya biasanya adalah orang-orang berduit..
Aku tertawa kecil melihatnya seperti itu.
Untuk ukuran, pertemuan pertama, dia sangat jujur. Mungkin, inilah bentuk antisipasi dia jika kelak menjadi room mate-ku. Mungkin sejak awal dia ingin menanamkan image bahwa dia adalah orang yang sangat biasa-biasa saja dan jelas tidak memiliki dana lebih untuk bersenang-senang.
Its oke..aku malah beruntung. sementara aku hang out bersama teman-teman, ada yang stay di apartemen.. Tiba-tiba detik itu juga aku merasa beruntung dipertemukan dengannya.. Dengan Rani, yang kelak akan memberi warna-warni lain dalam hari-hariku
Hari-hari terus berlalu...
Hingga pada suatu hari yang sangat cerah. Masih mengenakan baju tidur, Rani masuk kedalam kamarku. Semalam aku tidur pukul 02.30 setelah asyik berpesta bersama teman-teman satu jurusan di college, alhasil mataku lengket dan nyaris tak bisa dibuka.
Dengan penuh kasih sayang, Rani memukul pipiku pelan..
"Sayang...sarapan dulu... nanti kamu sakit lho.." ujarnya pelan. AKu terbangun mendengar suaranya.
Entah kenapa, detik itu juga aku merasa ada perasaan aneh yang menyelinap pelan didasar hatiku..
Terus berkembang seiring dengan perhatiannya yang menyejukkan hati..
Hingga kini..
Terus tumbuh tanpa pernah dapat aku cegah..
Aku sungguh tersiksa dengan perasaan ini.. sedangkan Rani??? dia dengan entengnya terus memberikan perhatian itu kepadaku.. Seperti tidak menyadari bahwa aku selalu tersihir dengan kata-kata penuh perhatiannya yang tidak pernah kudapatkan dari siapapun..
Rani... bolehkah aku berkata jujur kepadamu???
Perhatian yang kau berikan padamu telah menciptakan perasaan cinta di dalam hatiku.. Terus berkembang di hati yang begitu mendamba akan cinta..
Begitu mendamba uluran kasih sayang..
Rani.. Aku mencintaimu dalam setiap tarikan nafasku..

0 komentar: