
Pagi masih dipeluk kabut. Siang masih jauh membayang. Pukul 05.20 di tepi laut Lampung. Masih dengan sweater abut-abu tebal, topi rajutan, jeans kedodoran, sepasang kaus kaki yang entah sudah berwarna apa?, kopi susu ditangan. Will melangkah perlahan. Meretas kabut sambil menggeletukkan gigi karena hawa dingin yang menyergap. Tapi mau bagaimana lagi. Dia cinta laut dan baunya di pagi hari, karena itu tak ada pilihan lain selain keluar dari bungalow dan memanjakan mata, hidung, kulit, dan seluruh indera-nya untuk merasakan laut. 15 tahun berlalu ketika dia terakhir kesini. Ketika dia masih ditemani seorang laki-laki dari masa silam. Seorang laki-laki yang selalu memanggilnya madu. Seorang laki-laki yang mengizinkannya beranak-pinak menjadi 5. Putri cantik dan pangeran gagah yang sekarang bertaburan di seantero negeri. Mengerjakan urusan mereka sendiri. Sambil sesekali meneleponnya untuk sekedar menanyakan kabar dan mengisikan rekening bulanannya untuk hidup sehari-hari.
“Aku tinggal menikmati hidup,” gumamnya perlahan sambil menyeruput kopi dicangkir plastic yang tinggal separuh. Sedikit menyesal mengapa tak membawa sisa roti lapis coklat yang dibuatnya usai sholat shubuh tadi. Kini perutnya meronta minta diisi. Kembali ke bungalow hanya untuk sekedar mengambil roti, rasanya terlalu sia-sia. Tak lama lagi, tentu awan sudah dirobek oleh cahaya mentari pertama. Satu hal yang ingin dilihatnya sejak 15 tahun berlalu. Semenjak terakhir dia kesini bersama seorang laki-laki yang selalu memanggilnya madu…
To be continued……..


1 komentar:
kapan kita begini lagi aku mauuuu
Posting Komentar